Memasuki tahun 2010 ini, saya tiba-tiba teringat sepotong puisi Goenawan Mohamad:
Kita memang bersandar pada apa yang mungkin kekal,
mungkin pula tak kekal.
Kita memang bersandar pada mungkin.
Kita bersandar pada angin
Dan tak pernah bertanya: untuk apa?
Tidak semua, memang, bisa ditanya untuk-apa.
Barangkali saja kita masih mencoba memberi harga
pada sesuatu yang sia-sia. Sebab kersik pada kerang,
lumut pada lokan,
mungkin akan tetap juga di sana.
apa pun maknanya.
(“Pada Sebuah Pantai: Interlude,” dalam Goenawan Mohamad, Asmaradana [Jakarta: Gramedia, 1992]).
Puisi ini dengan indah menggambarkan kesementaraan dan, berkait dengan itu, ketidak-pastian. Terbiasa oleh kefanaan, kita memang tak sering bertanya, “untuk apa?” Mungkin pertanyaan cerewet macam itu tidak lagi dianggap perlu. Mungkin juga ia dianggap mengganggu. Yang pasti, menurut sang penyair, kita bersandar pada yang mungkin.
Memasuki dan menghadapi suatu tahun yang baru bisa terasa seperti “bersandar pada angin.” Apa yang akan terjadi? Apa yang bisa kita harapkan? Apa yang bisa memberi jaminan agar tahun ini dapat kita lalui dengan mantap? Seperti halnya setiap lembaga, STT Amanat Agung juga tentu akan melontarkan pertanyaan yang kurang lebih mirip. Apa yang dapat menjadi sandaran kami untuk dapat menjadi suatu komunitas scriptura, scientia, sanctitas dan servitas? Untuk lebih mencintai Tuhan? Untuk lebih berkontribusi bagi gereja Tuhan di bumi Indonesia ini?
Ketika saya beralih kepada Alkitab, Allah menyatakan dengan jelas bahwa ada orang-orang yang mengandalkan rumah dan bangunan kokoh sebagai suatu jaminan; tetapi rumah tak selalu berdiri. Rumah tak selalu bertahan. Sekokoh apa pun sebuah jaminan fisik, ia bisa menjadi hanya sebuah rumah laba-laba (Ayub 8:14-15). Harta, uang, dan kekayaan memang bisa menjadi suatu alat yang Tuhan pakai untuk menjadi berkat bagi k i ta atau untuk melaksanakan suatu pekerjaan-Nya melalui kita. Namun, hal-hal itu bukan sandaran bagi seorang Kristen. Karena itu, tidak jarang Tuhan memperlihatkan, untuk menjadi suatu peringatan, justru di kala kita merasa lemah dan tak berdaya, Tuhan menyatakan kuasa dan hikmat-Nya yang ajaib, 2 Korintus 12:9-10. Karena itu pula, Tuhan mengingatkan untuk tidak bersandar pada pedang (Yehezkiel 33:26), suatu simbol kekuasaan dan kekuatan fisik untuk merebut kemenangan. Dan sebagai suatu komunitas akademik, kami diingatkan secara spesifik dan serius untuk tidak “bersandar pada pengertianmu sendiri” (Amsal 3:5). Bagaimana menghasilkan hamba Tuhan yang baik, dan yang dapat menghadapi dan menjawab tantangan jaman? Bila lalai, kami bisa berkonsentrasi penuh hanya pada hal-hal teknis: mengubah kurikulum, mendongkrak kemampuan berbahasa Inggris, mencoba berakreditasi ke kiri dan ke kanan, memperdalam pemahaman teologi, meningkatkan keterampilan konseling, membentuk pengkhotbah-pengkhotbah yang fasih. Tanpa sadar kami bisa terjebak ke dalam “mengandalkan pengertian kami sendiri.”
Walau semua hal teknis itu penting bagi suatu lembaga pendidikan teologi, tetapi pada akhirnya yang menjadi suatu roh dari sebuah seminari adalah bahwa sebagai komunitas kami belajar untuk bersandar pada Allah. We “will lean on the LORD ... in truth,” begitu kata Yesaya 10:20 (ESV,
NRSV). LAI menerjemahkan dengan indah: “bersandar pada Tuhan ... dan tetap setia.” Bersandar pada Tuhan untuk kecukupan sehari-hari. Bersandar pada Tuhan agar pengajaran kami sungguh menjadi pemberitaan Firman dan Kebenaran Tuhan. Bersandar pada Tuhan agar mahasiswa-mahasiswi
kami dibentuk sesuai kehendak dan isi hati Tuhan untuk melayani Dia dalam
konteks masyarakat Indonesia. Bersandar kepada Tuhan agar STTAA sungguh dapat menjadi STT yang excellent, yang bisa berbuah optimal sesuai dengan natur dan fungsinya.
Kami bersyukur pada Tuhan Yesus yang dengan setia memimpin dan menuntun STTAA melewati tahun 2009-Dia membuktikan diri-Nya dapat disandari dan diandalkan; dan kami belajar untuk tetap setia kepada Dia yang setia. Kami juga sangat berterima kasih kepada para donatur, hamba-hamba Tuhan dan majelis di gereja-gereja Allah, dosen-dosen tamu, serta pelbagai pihak yang rela dipakai oleh Tuhan untuk menjadi pendukung bagi STTAA. Selama tahun 2009 kami dicukupkan oleh anugerah Tuhan melalui Saudara-saudari yang mencintai Tuhan dan mencintai STTAA. Rasa syukur kepada Tuhan, yang dapat disandari, dan rasa terima kasih yang mendalam kepada Saudara-saudari sekalian yang telah menjadi saluran-saluran berkat bagi kami. Memasuki tahun 2010, memang banyak kemungkinan dan ketidak-pastian di depan. Tetapi kita tidak bersandar pada kemungkinan dan ketidak-pastian itu. Ketika kita merasa berjalan dalam kabut ketidak-pastian dan mencoba meraba-raba seberkas cahaya, baiklah kita percaya kepada Yahweh dan bersandar kepada Allah (Yesaya 50:10).
Pdt. Andreas Himawan, D.Th. (cand.) |